Akselerasi Transformasi Kesehatan, HMP Kebidanan Poltekkes Kemenkes Malang Gelar Kuliah Tamu Nasiona

By Admin prodi 05 Agu 2026, 14:41:18 WIB Kemahasiswaan
Akselerasi Transformasi Kesehatan, HMP Kebidanan Poltekkes Kemenkes Malang Gelar Kuliah Tamu Nasiona

MALANG 2026 – Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Sarjana Terapan Kebidanan Malang dan Pendidikan Profesi Bidan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang sukses menyelenggarakan agenda akademik bergengsi, Kuliah Tamu Nasional Tahun 2026. Kegiatan skala nasional ini dilaksanakan pada hari Rabu, 13 Mei 2026, secara daring melalui platform Zoom Workplace.

Dengan mengusung tema “Integrated Digital Care: Optimalisasi Peran Bidan dan Pemberdayaan Perempuan dalam Pemanfaatan Sistem Informasi Kesehatan Terpadu” , kuliah tamu ini berhasil menarik antusiasme yang luar biasa tinggi. Tercatat sebanyak 201 peserta hadir, yang terdiri dari jajaran pimpinan institusi, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa kebidanan dan masyarakat umum dari berbagai wilayah. Acara dibuka secara resmi dengan sambutan hangat dari Direktur Poltekkes Kemenkes Malang, Ibu Siti Nur Kholifah, SKM., M.Kep., Sp.Kom.

Mengupas Tuntas Peran Bidan di Era Digital Lewat Strategi "Bidan CERDAS"

Sesi pertama menghadirkan narasumber nasional yang sangat berkompeten, yaitu Ibu Dr. Ade Jubaedah, S.SiT., M.M., M.KM , yang membawakan topik “Peran Bidan dalam Pemanfaatan Sistem Informasi Kesehatan Terpadu”. Dalam pemaparannya, beliau menyoroti tantangan besar kesehatan remaja saat ini, seperti tingginya angka anemia (32%), risiko stunting, hingga kehamilan remaja.

Di balik tantangan tersebut, tingginya intensitas penggunaan internet oleh perempuan Indonesia (rata-rata 6 jam sehari di media sosial) dinilai sebagai peluang emas bagi bidan untuk memperluas jangkauan edukasi. Beliau menegaskan bahwa implementasi teknologi dalam praktik kebidanan kini telah dipayungi oleh regulasi kuat, yakni UU Kesehatan No. 17 Tahun 2023, yang mewajibkan penerapan rekam medis elektronik dan sistem informasi terintegrasi.

Untuk menghadapi era ini, beliau mengenalkan strategi akronim "Bidan CERDAS":

  1. Cekatan Skrining Digital: Melakukan skrining mandiri kesehatan melalui platform daring.
  2. Edukasi Via Medsos: Memanfaatkan TikTok atau Instagram untuk menyebarkan informasi kesehatan valid dan memerangi hoaks.
  3. Responsif Konseling Online: Mengoptimalkan layanan konsultasi cepat melalui aplikasi pesan instan.
  4. Data Real-Time: Mengintegrasikan data pelayanan ke dalam sistem nasional seperti ASIK dan SATU SEHAT.

Advokasi Digital & Sinergi: Menggalang dukungan lintas sektor (Pentahelix) secara daring demi kebijakan kesehatan yang inklusif. Visi besarnya adalah mewujudkan Indonesia Emas 2045, di mana bidan mahir memanfaatkan literasi digital dan Artificial Intelligence (AI) tanpa menghilangkan sisi humanis profesi.

Pemberdayaan Perempuan sebagai Pilar Utama "Digital Health Companion"

Sesi kedua dilanjutkan oleh Ibu Sheila Tania Marcelina, S.Keb., Bd., M.Kes dengan materi krusial mengenai “Pemberdayaan Perempuan dalam Pemanfaatan Sistem Informasi Kesehatan”. Sesi ini menitikberatkan pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 poin ke-5, yaitu menghapus diskriminasi serta menjamin akses universal terhadap kesehatan reproduksi dan seksual.

Beliau menjelaskan bahwa melalui konsep Integrated Digital Care, bidan bertransformasi peran menjadi Digital Health Companion (pendamping kesehatan digital). Bidan bertindak sebagai edukator, fasilitator, sekaligus advokat yang menyaring miss informasi medis bagi perempuan di internet. Meskipun di lapangan terdapat kendala seperti rendahnya literasi digital atau kesenjangan gender dalam pengambilan keputusan keluarga , strategi konkret dapat diterapkan melalui edukasi

langsung berbasis komunitas di Posyandu/Kelas Ibu Hamil serta optimalisasi monitoring mandiri lewat grup WhatsApp.

Evaluasi Transparan demi Kualitas Kegiatan yang Lebih Hebat

Sebagai wujud akuntabilitas, kepanitiaan melakukan pemetaan evaluasi pasca-acara secara terbuka. Beberapa hambatan administratif dan teknis teridentifikasi, mulai dari manajemen waktu pengajuan proposal yang mepet, kurangnya koordinasi antar-divisi, kesalahan pengetikan nomor urut absensi fisik, hingga kendala fitur teknis spotlight visual saat penyerahan sertifikat di Zoom.

Menyikapi hal tersebut, panitia telah menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang sistematis untuk kegiatan mendatang, antara lain:

  1. Memaksimalkan komunikasi antar divisi agar alur kegiatan berjalan searah.
  2. Mematuhi garis waktu dengan mengajukan proposal minimal H-7 sebelum kegiatan.
  3. Menerapkan sistem double-check (pemeriksaan ganda) oleh minimal dua orang panitia pada dokumen cetak sebelum dipublikasikan.
  4. Menugaskan satu operator khusus yang berfokus memegang kendali penuh atas fitur visual dan spotlight selama acara daring berlangsung.

Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong para mahasiswa kebidanan untuk segera mengaplikasikan ilmu Integrated Digital Care dalam praktik klinik nyata, demi peningkatan kualitas kesehatan keluarga secara menyeluruh di era digital.

 

Penulis: ULYA HUSNA




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment